JEMAJA, NEWSAJADDETIK.CO.ID — Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Cindai mengecam keras maraknya aksi pemanenan buah kembang semangkok (kepayang) yang masih muda di wilayah Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas. Kebiasaan memetik buah sebelum matang ini dinilai merusak kualitas hasil panen sekaligus mengancam kelestarian kekayaan alam lokal tersebut.
Sekretaris LSM Cindai, Toni Martin, menyatakan bahwa aksi pemanenan dini hanya berfokus pada keuntungan sesaat. Jika dibiarkan tanpa kendali, populasi dan produktivitas pohon kembang semangkok di Jemaja diprediksi akan merosot tajam dalam jangka panjang.
Guna memutus rantai pemanenan dini, Toni mendesak para pengepul dan pembeli hasil bumi untuk mengambil sikap tegas dengan menolak transaksi buah mentah.“Kalau buah masih belum matang, sebaiknya jangan diambil dan jangan dibeli. Mari kita sama-sama menjaga agar pohon kembang semangkok tetap lestari dan hasilnya memiliki kualitas yang baik,” ujar Toni Martin, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Toni, komitmen di tingkat pengepul menjadi kunci utama pencegahan. Ketika para pembeli sepakat memboikot kepayang mentah, masyarakat secara otomatis terdorong untuk menunda panen hingga buah benar-benar siap dipetik.
“Kalau semua pembeli kompak tidak membeli buah yang masih muda, ini salah satu cara paling efektif untuk mencegah kepayang muda diambil,” tegasnya.
Toni menegaskan bahwa perlindungan terhadap ekosistem daerah bukan semata tugas pemerintah, melainkan komitmen kolektif yang melibatkan warga, pemilik tanaman, hingga para pelaku usaha.
“Kalau bukan kita yang menjaga kekayaan alam Jemaja, siapa lagi? Pohon ini harus kita jaga bersama agar hasilnya dapat terus dimanfaatkan hingga generasi mendatang,” pungkas Toni.
Editor: Redaksi newsajaddetik.co.id



